You can't have a better tomorrow if you're always thinking about yesterday.
Whazzup!
Welcome dear bloggers.
My name is CHARLITA. Pronounced similar to "KARLITA." I'm a simple 20 years old girl who likes Writing and Singing.
I'm in love with Music,Great Movies and Good novels. I'm addicted to STARBUCKS and CHOCOLATE.
I'm a die-hard fan of Nicholas Sparks,Gossip Girls, and Twilight Saga.Eyeliner and Skinny Jeans are my two best friends, they're always by my side whenever I need them.
"I hear & I forget, I see & I remember. I do & I understand."
Seandainya kita sama..
Monday, July 06, 2009 || 5:42 PM
Cerita ini awalnya terinspirasi dari curahan hati seorang teman. Namun nama disamarkan. Juga dilakukan beberapa perubahan kejadian. Semoga tidak menyinggung pihak manapun, dan bersedia menganggap ini hanya sebagai suatu fiktif belaka. Jika ada kesamaan kisah dan karakter harap dimaklumi. Enjoy.. (: oh yaa, tentunya cerita ini dipublikasi juga atas dasar persetujuan “teman” saya tersebut..
Langit sore ini terang benderang, tidak seperti hari biasanya. Garis-garis awan putih berkumpul membentuk suatu gumpalan besar. Kicauan burung pun terdengar masih bersahutan. Anak-anak kecil masih sibuk berlarian walaupun saat itu misa sudah dimulai. Sore yang hangat. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 17.15. Aku telat datang ke gereja karena ketiduran. Waktu aku datang, aku tidak duduk di tempat biasanya. Sudah penuh. Jadi begitu aku selesai mengambil air suci dan membuat tanda salib, aku lalu mencari tempat duduk di luar. Aku datang sendirian sore itu. Awalnya aku mengeluh pada diri sendiri, mengapa aku bisa ketiduran. Malas rasanya misa duduk di luar. Tidak khusuk. Tapi ternyata. Hei. Kali ini aku bersyukur! Karena aku melihat kamu sedang duduk lima langkah dr tempat dudukku. Kelihatannya kamu sedang sedih. Kamu duduk bersama dua kawanmu. Sampai saat homili pun, aku tidak konsen mendengarkan apa yang dibicarakan Romo. Aku malah sibuk memperhatikan kamu. Matamu sembap. Merah. Tapi kamu masih terlihat manis mempesona. Apa yang membuat kamu sedih, Nona? Sayang sekali kamu tidak terlihat ceria di sore yang cerah ini.. aaahhhh. Aku jadi ingin tahu siapa namamu..
********
3 bulan kemudian..
“Maafin aku ya, Frank. Tapi sepertinya kita udahan aja deh. Aku ngga bisa terus seperti ini..” begitu katamu. Aku bingung. Sibuk mencerna ucapan kamu. Bagaimana mungkin aku melepasmu disaat aku sedang jatuh cinta berat padamu? Hah! Tidak mungkin. “Loh, kenapa begitu Sil? Kenapa kita harus bubar? Apa yang salah?” “Emmm.. Ada masalah yang rumit, Frank. Aku rasa ini yang terbaik untuk kita.” “Tapi masalah itu apa? Jelaskan padaku..” “Ceritanya rumit..” Aku melengos. “Hoo, jd lebih baik kamu pergi meninggalkan aku tanpa penjelasan? Tidak. Aku ingin tahu. Apa yang terjadi? Yang sebenarnya.” “Baiklah. Begini.. Papa… errrr…. Papa..” “Mengapa papamu?” tanyaku halus. Aku dan kamu duduk bersampingan di taman dekat rumahku. Kamu tiba-tiba datang, padahal sebelumnya kamu tidak dapat aku hubungi berhari-hari. Aku cemas. Sekalinya kamu datang, kamu justru mengucapkan kata-kata yang seumur hidupku aku berjanji tidak ingin mendengarnya. “Papaku sudah tahu akan hubungan kita..” “Aneh, bukannya bagus jika papamu sudah tahu? Jadi kapan aku boleh main ke rumahmu?” tanyaku heran. “Justru itu. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, Frank. Papa tidak setuju akan hubungan kita. Keluargaku. Terlebih papa.” Aku mematung. “Mengapa?” Kamu menggigit bawah bibirmu. “Karena kita berbeda.” “Berbeda?” ulangku. “Ya. Berbeda..” “Ohhh. Maksudmu, karena aku bukan orang cina? Begitu kah, Sil?” Kamu menunduk. Mulai menangis. “Iya. Maafkan aku, ya..” Aku memeluk kamu. Membiarkan kamu menangis d dadaku. “Apa tidak ada cara lain agar papamu setuju? Atau kamu sudah yakin bahwa dengan melepasku kamu akan bahagia?” Kamu berbicara di tengah tangisanmu, “Aku sayang banget sama kamu, Frank. Kamu datang di saat aku benar-benar terluka. Ingat khan 3 bulan yang lalu di gereja? Jika kamu tidak menghampiriku pasti sampai saat ini aku masih terbelenggu dengan dia. Aku tidak menyangka papa akan seperti ini…” Aku tersenyum. “Tentu aku tahu, Sil. Aku juga bersyukur saat itu aku ketiduran, makanya aku bisa bertemu kamu.. Aku tidak mau berpisah.” “Aku juga. Tapi apa daya..” “Kenapa seperti ini ya.. hm.. memangnya ada apa dengan aku? Papamu mau kamu berpacaran dengan sesama cina ya? Apa karena aku bukan orang cina, jdnya aku tidak pantas untuk kamu?” “Dia bilang sebaiknya seperti itu. Dia merasa lebih baik aku mencari orang cina juga. Aku tidak diperbolehkan berpacaran dengan yang bukan cina. Sampai kapanpun.” “Baru kali ini aku menyesal dilahirkan bukan sebagai orang cina.” ujarku datar. “Ssssst. Kamu tidak boleh bilang seperti itu, Frank!” katamu marah. “Bukan begitu maksudku, Sil. Aku hanya sedikit menyesal. Coba saja aku dilahirkan sebagai orang cina. Aku jadi bisa terus bersamamu.” “Tuhan itu adil. Dia pasti sudah merencanakan setiap yang terbaik bagi umat-Nya. Mungkin kamu akan menemukan seorang cina yang lain, Frank.” “Hahahah..” aku tertawa menyedihkan, “yang aku permasalahkan itu bukan tentang seorang cina atau bukan. Tapi aku berharap kalaupun itu seorang cina, itu adalah kamu. Bukan orang lain, Sil.” Kamu semakin sedih menatapku. “Maafkan aku, ya.. Frank..” “Jadi kamu benar mau melepasku?” “Ya. Maaf. Relakan saja aku..” “Kalau begitu semoga kamu bahagia.” “Kamu juga.”
Aku melepas kamu pergi sore itu. Kamu dan aku tidak lagi menyatu. Pecah bagai dua kepingan.
Aku merasa sangat heran. Malah rasanya aku jadi berpikir tidak rasional. Pernahkah kamu bertanya tapi tidak menemukan jawaban? Aku pernah mengalaminya. Aku ingin berdoa pada Tuhan. Aku hanya ingin bertanya pada-Nya. Bukan bermaksud untuk tidak mensyukuri atas apa yang Dia berikan padaku atas hidup. “Tuhan, keluhku tidak tersembunyi bagi-Mu. Aku selalu mensyukuri akan setiap hal di dalam hidup. Di setiap nafas yang aku hela dan disetiap langkah yang aku jalani. Aku sedang mengalami kebingungan yang mendalam. Mengapa Kau menciptakan aku sebagai seorang Batak dan menciptakan dia sebagai seorang Cina. Padahal kami berdua sama-sama hidup mengenal-Mu dan sudah menjadi anak-Mu. Mengapa? Mengapa karena aku “berbeda” dengan dirinya, aku tidak diberikan kesempatan untuk mencintai dan memiliki dia? Bukankah seharusnya aku tetap patut bersyukur? Karena aku tahu, Tuhan pasti sudah menentukan jalan bagi setiap umat-Nya. Begitu pula pada diriku dan dirinya. Bukankah setiap orang tidak pernah mengetahui akan dilahirkan sebagai orang apa? Orang yang berkecukupan, orang yang kekurangan, orang yang pintar, orang yang kurang pintar, orang batak, orang cina, orang sunda, orang manado, orang jawa, orang Kalimantan, dll. Dan bukankah setiap orang juga tidak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai orang apa?”
Aku menutup doaku sambil berlinang air mata. Bukan hanya hatiku yang terluka, tapi pikiran dan jiwaku juga perlahan mulai mati rasa.
*****
Sesudah kamu memutuskan hubungan itu, kamu malah masih sering menghubungi aku. Mengajak aku bertemu. Menelepon. Mengirim pesan singkat. Waktu aku bertanya apakah kamu ingin kembali padaku, kamu menjawab dengan mantap “Iya.” Begitu aku tanya tentang papamu , kamu bilang, “Biarkan saja, nanti kita cari jalan keluarnya..“ Aku bahagia. Walaupun tetap merasa tidak enak dgn keluargamu dan menjalani backstreet. Hari begini masih backstreet? Ada-ada saja.. tapi tak apa, asal kamu tetap di sampingku.
Kamu membuat aku mengerti apa arti cinta. Tahukah kamu? Energiku bisa sangat cepat kau hisap dan bisa dengan cepat pula kau kembalikan. :)
Sampai pada suatu hari, ketika aku hendak datang untuk bertemu dengan kamu, kamu mengirim pesan singkat untukku.
“Frank. Aq mau kita pts. Aq mau kita tidak seperti ini lg. tidak perlu ada syg2an lg.”
Aku mencoba menelpon kamu, tapi tak kunjung kamu angkat.
“Knapa km tdk angkat tlp ku? Apa-apaan kamu ini Sil? Apa maksudmu ingin putus lagi?”
“ya, aq ingin kita pts. Berteman lebi baik. Aku sudah tidak sayang lagi padamu. Tidak ada lagi rasa sayang.”
“hah? Bercanda kau! Angkat telpon aku. Aku ingin kita bicara.”
Tapi kamu tidak pernah membalas smsku. Tidak juga mengangkat telponku lg.
Aku hancur. Kamu “mengangkat” lalu “membanting” aku. Kamu pikir aku apa? Aku uring-uringan, merasa serba salah. Shock. Aku sangat takut kehilangan kamu. Tapi rasanya aku memang sudah kehilangan kamu…
****
“Tuhan, keluhku tidak tersembunyi bagi-Mu. Aku selalu mensyukuri akan setiap hal di dalam hidup. Di setiap nafas yang aku hela dan disetiap langkah yang aku jalani. Aku sedang mengalami kebingungan yang mendalam. Mengapa Kau menciptakan aku sebagai seorang Batak dan menciptakan dia sebagai seorang Cina. Padahal kami berdua sama-sama hidup mengenal-Mu dan sudah menjadi anak-Mu. Mengapa? Mengapa karena aku “berbeda” dengan dirinya, aku tidak diberikan kesempatan untuk mencintai dan memiliki dia? Bukankah seharusnya aku tetap patut bersyukur? Karena aku tahu, Tuhan pasti sudah menentukan jalan bagi setiap umat-Nya. Begitu pula pada diriku dan dirinya. Bukankah setiap orang tidak pernah mengetahui akan dilahirkan sebagai orang apa? Orang yang berkecukupan, orang yang kekurangan, orang yang pintar, orang yang kurang pintar, orang batak, orang cina, orang sunda, orang manado, orang jawa, orang Kalimantan, dll. Dan bukankah setiap orang juga tidak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai orang apa?”
Aku menyesal pernah bertanya seperti itu pada Tuhan. Mengapa aku pernah berharap dilahirkan kembali sebagai orang cina, hanya karena aku mencintai dia? Padahal aku harusnya berterima kasih pada Tuhan. Karena itu juga, aku masih terselamatkan. Untuk apa berjuang demi orang yang aku cinta padahal kamu hanya mempermainkan aku? Kamu selingkuh dengan orang lain. Mengatasnamakan perbedaan hanya untuk kepuasan kamu semata. Jujur, aku masih mencintai kamu. Hingga detik ini. Walaupun kamu menyakiti aku. Aku berbaring lemas di ranjangku. Sebelum tidur aku mengucapkan doa dengan mantap. Doaku malam ini: “Tuhan, aku percaya padamu, Engkau telah menciptakan pertemuan satu set dengan perpisahan. Aku mengucap syukur kiranya Engkau pernah mempertemukan aku dengan Sesil, membuat aku mengerti akan arti cinta. Mungkin ini yang terbaik. Pertemuan itu indah, tapi aku percaya rencana-Mu sungguh lebih indah akan ini. Perpisahan ini menyakitkan, tapi aku yakin Kasih-Mu mampu memulihkannya. Amin.”
THE END
Created by : Franzeska Charlita Tiara Thank you for reading and also Thank you For Not Copy Paste this story..