You can't have a better tomorrow if you're always thinking about yesterday.
Whazzup!
Welcome dear bloggers.
My name is CHARLITA. Pronounced similar to "KARLITA." I'm a simple 20 years old girl who likes Writing and Singing.
I'm in love with Music,Great Movies and Good novels. I'm addicted to STARBUCKS and CHOCOLATE.
I'm a die-hard fan of Nicholas Sparks,Gossip Girls, and Twilight Saga.Eyeliner and Skinny Jeans are my two best friends, they're always by my side whenever I need them.
"I hear & I forget, I see & I remember. I do & I understand."
lovely byan
Monday, October 05, 2009 || 4:32 AM
Dia menyempurnakan hidupku. Selama aku tahu dia disampingku. Selama aku tau dia itu milikku. Persoalan hidup, kepenatan akan rutinitasku terbayarkan dan akan segera lenyap setiap aku memandang wajahnya. Ya. Aku sangat mencintai lelakiku. Byan. Dia duduk dihadapanku, sambil memainkan garpu diatas spaghetti yang aku siapkan untuknya. Matanya yang bundar berwarna coklat tua terlihat tidak antusias. Raut wajahnya seperti tidak bersemangat.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyaku lembut. Byan menggeleng cepat. "Tidak ada.." "Apa kau tidak suka makan malammu?" "Tentu saja aku menyukainya, Mom." "Kalau begitu mengapa kau tak menyantapnya?" "Aku.. Aku hanya memikirkan daddy. Aku rindu padanya. Mom tidak marah khan?" Byan bertanya padaku sambil memandang mataku lekat-lekat. Aku mengulurkan lenganku, meremas jemarinya pelan. "Mom tidak marah padamu, sayang. Kau ingin menelepon daddy malam ini?" Byan mengangguk cepat. Dia tersenyum lebar. "Iya. Aku ingin menelepon daddy sekarang." "Kau boleh menelepon daddy asalkan kau habiskan terlebih dahulu makan malammu. Bagaimana, pangeran?" tanyaku sambil menuang air ke dalam gelasnya. "Baiklah. Tiba-tiba aku sangat lapar! Spaghetti Mommy memang paling enak sedunia.." katanya ceria seraya memasukkan garpu ke dalam mulutnya. Aku melihat sisa saus mengotori bibirnya. Kukecup perlahan pipi kanan Byan. "Kau memang pandai merayu ya, sayang. Ayo, segera habiskan. Lalu kau boleh menelepon ayahmu. Mommy ingin membereskan kamar sebentar."
***
Aku hanya hidup berdua dengan Byan. Dia putra tunggalku. Aku telah bercerai dengan Mike hampir setahun lalu. Hubungan kami mungkin masih baik. Kami jarang berkomunikasi sebenarnya, kecuali urusan Byan. Perjalananku berliku. Aku tak pernah menyesal menikah dengan Mike. Tapi kami tau, bahwa ini tidak bisa dipertahankan. Perasaanku mungkin telah berubah seiring berjalannya waktu. Mike mengkhianatiku. Aku telah memaafkannya. Hanya saja aku tak mungkin lagi untuk tinggal dan tetap menjadi istrinya, sementara bayangan dia bersama wanita lain selalu muncul di benakku. Pernikahanku hanya bertahan selama 9 tahun. Bersama Mike membuatku kembali merasakan apa itu cinta dan kebahagiaan. Apalagi ketika aku mengandung Byan. Aku tau dia anugerah terindah dalam hidupku. Tidak sampai pada bagian aku memergoki Mike sedang menggandeng mesra wanita lain.
Aku mengganti seprai berwarna putih itu dengan warna biru langit. Mengambil baju kotor Byan yang berserakkan di lantai. Dia memang sering bermain dan tidur bersamaku di kamarku. Tiba-tiba mataku tertuju pada laci lemari yang sedikit terbuka. Aku menghampiri laci itu hendak menutupnya, namun mataku malah tertahan di handycam yang tergeletak di dalam tersebut. Sudah bertahun-tahun lamanya aku tak menyentuh barang itu. karena aku tau, luka lamaku akan kembali menganga jika aku melihat itu lagi. Aku mengusap lembut permukaan handycam, lalu menghela nafas. Menyadari bahwa hidupku benar-benar sudah berubah.
***
Setelah membereskan kamar, aku kembali ke dapur untuk mengangkat piring kotor bekas makan malam kami tadi. Makan malam Byan habis. Lega rasanya. Aku mencuci piring itu dan tidak sadar bahwa Byan sudah berada di belakangku.
"Mom, apa kau ingin bicara dengan Dad?" tanya Byan. Telepon masih ditempelkan di telinga kanannya. Aku menggeleng pelan sembari memberi isyarat tanganku penuh dengan sabun. "Oh.. Mommy sedang mencuci piring dad.. Ya. Baiklah aku mengerti. Akan kusampaikan pada Mommy. Aku sayang padamu, Dad. Ya. Sampai besok." telepon pun dimatikan. Byan duduk di sebelahku sambil menghapus air di sudut matanya. "Ada apa, Sayang?" "Daddy menitipkan salam untukmu, Mom. Dia bilang dia sangat merindukan kita." Aku melap tangan basahku, lalu mengacak rambut Byan. "Bukankah besok kau akan bertemu dengan ayahmu? Kau boleh pulang setelah jam makan malam. Bagaimana?" Byan menatapku, dia tidak menjawab pertanyaanku malah berbalik memberikanku pertanyaan. "Apa aku boleh bertanya?" Aku mengangguk. "Apa Mom benci pada Dad?" Aku menggeleng. "Apa Mom merindukan Dad?" Aku diam. "Tidak ya, Mom?" Aku kembali menggeleng dengan perlahan lalu memeluknya. Byan menatapku mengerti. Lalu mulai menangis. "Aku sangat sedih dengan keadaan kita saat ini, Mom. Aku ingin daddy tinggal di sini lagi bersama kita." Hatiku menjerit ikut tersakiti. Sesaat aku memejamkan mataku lalu menepuk punggungnya perlahan. "Kau tau, Byan. Mom dan Dad sangat sayang padamu. Melebihi apapun yang ada di dunia ini. Aku tau ini cara orang dewasa yang sulit kau mengerti. Tapi nanti ketika kau dewasa, kau akan menyadari bahwa ini jalan yang terbaik. Maafkan Mom dan Dad yang egois ini ya. Kami tidak pernah bermaksud membuatmu sedih apalagi tersakiti." Byan menangis pelan di pelukanku. Dia berbicara di tengah isak tangisnya, "Besok siang Daddy akan terbang ke Auckland. Dia menanyakan akankah kita mengantarnya ke bandara? Maukah Mommy pergi bersamaku?"
Gerbang keberangkatan? Bandara. Aku benci. Luka lamaku perlahan timbul lagi.
***
"Mom belum menjawab pertanyaanku. Apa mom mau ikut bersamaku mengantar Daddy?" Byan mengulang pertanyaannya. Aku sibuk memikirkan jawaban yang tepat sambil membantu dia mengenakan piyama tidurnya. "Begini. Besok sepulang sekolah, Mom akan menjemputmu lalu mengantarkanmu ke rumah Dad, setelah itu kau boleh ikut mengantar Dad bersama Bibi Michelle. Bagaimana?" "Mengapa Mom tidak ikut? Ayolah sebentar sajaa.." rengek Byan. Aku menyisir rambutnya yang berwarna hitam pekat. Persis seperti Mike. "Besok aku harus mengajar piano di rumah marry. Aku akan mengadakan ujian khusus untuknya. Jadi aku tak mungkin pergi dengan kalian. Daddy bilang dadakan, Mom tak bisa membatalkan ujian, Sayang. Titipkan salamku untuk Daddy, ya?" jawabku sambil kali ini membantu menyelimuti Byan. Byan mengucek matanya lalu menggumam "Yaaaahhh.. Baiklah. Aku setuju asalkan aku boleh mengantar daddy. Nanti akan aku sampaikan padanya, Mom. Oh ya, Mom.." "Hmmm?" "Apa semua orang yang meninggal masuk surga?" "Mengapa kau bertanya demikian? Tentu saja. Asalkan dia orang baik." "Apakah seseorang bernama Mr. Christian Whittman itu baik?" Aku tersentak Byan mengucapkan nama itu. Ya, Tuhan. Kok? "Byan? Siapa yang kau maksud?" "Entahlah, Mom. Aku juga tak mengenalnya. Tapi Daddy bilang dia orang baik. Dan Mom sangat sayang padanya. Apa itu benar? Apa dia sudah di surga saat ini?" Byan menyecarku dengan pertanyaan polosnya. Aku mengusap perlahan pipi putraku, mencoba menjawab sekuat tenaga. "Oh.. Eh.. Hmm.. Dia sahabat Mom. Dia memang baik. Dan aku rasa dia sekarang sudah berada di surga. Dengar, kapan Dad bilang padamu masalah ini?" "Beberapa hari yang lalu saat kami bertemu untuk bermain bola. Daddy bilang aku harus membuat Mom bahagia. Sama seperti Mr. Christian itu yang pernah membuatmu bahagia. Dad juga bilang, selama ini Daddy menyakiti hatimu, Mom.." Mataku terasa panas. Air mata seakan berebut untuk keluar dari tempatnya. Aku menatap Byan. "Lalu?" "Mom.. Aku sangat menyesal mengapa aku tidak bertemu Mr. Christian sebelum dia ke surga, kalau tidak khan.." Byan kembali menangis. Air mataku juga mulai turun perlahan. Aku menggenggam jemarinya. "Kalau tidak knapa, Byan?" "Aku akan bertanya padanya bagaimana cara dia membuatmu bahagia, lalu aku akan menyuruh Dad meniru caranya. Agar kau bisa bahagia dengan dad.." Byan begitu polos dan aku kaget setengah mati atas apa yang diucapkannya. Umurnya 8 tahun. Tapi menurutku, dia lebih dewasa dibandingkan umurnya. "Dengar Byan. Kau tahu? Kau adalah milikku yang paling berharga. Hidup dan Matiku di dunia ini hanya untukmu dan Tuhan. Satu-satunya pria yang aku cintai setinggi langit, bahkan menembus surga, hanya kau.. Caramu, cara Tian, juga cara daddy, masing-masing membuatku bahagia. Tapi satu hal yang pasti. cara Tian dan cara Daddy itu hanya masa lalu. Sudah lewat. Kau paham maksudku?" "Ya. Sepertinya aku paham." "Kalau begitu sekarang tidur ya. Aku akan menunggu sampai kau terlelap. Kalau kau susah tidur hingga larut malam, dan aku sudah tertidur, bangunkan saja. Selamat tidur, Sayang. Aku menyayangimu." ucapku lalu mengecup kening Byan. Aku berdiri lalu hendak mematikan lampu. "Mom..." "Yaaa?" "Aku juga sangat menyayangimu. Aku tak ingin Mom menangis lagi. Daddy menitipkan Mommy padaku. Aku berjanji akan selalu menghabiskan makan malamku, juga selalu menyelesaikan peer terlebih dahulu sebelum pergi bermain. Apapun asal kau tak kesal dan selalu tersenyum." Byan bicara dengan terbata di tengah kantuknya. "Good night, Mom." Aku menutup mulutku menahan tangis. "Thank You, Dear. Good night."
Sepertinya Tian akan datang kembali dalam mimpiku malam ini. Aku sangat merindukanmu. Bahkan sampai detik ini.
***THE END***
Created by : Alexandra F. Charlita Tiara (: Thank you for reading and also Thank you For Not Copy Paste this story.